Banggai

Ratusan Warga Padati Sungai, Imam Masjid : Mereka Datang Mandi Safar

Nambo, Banggai, Sigipos.com,- Ratusan warga berbondong-bondong mendatangi sungai yang berada tepat di belakang sebuah masjid tua kelurahan Nambo Bosaa untuk melaksanakan mandi secara massal. Mulai dari balita dari balita hingga orang dewasa bahkan manula.

Konon mandi massal seperti kali ini sudah menjadi kebiasaan warga sejak turun temurun dan sudah membudaya di daerah ini. Dilaksanakan setiap tahun yakni pada setiap akhir Bulan Safar hitungan Tahun Hijriyah yang tahun ini tepatnya dilaksanakan pada Rabu 14 Oktober 2020 bertempat dibantaran sungai konahum samping Masjid tua Kelurahan Nambo Bosaa.

Salah seorang tokoh perempuan yang menjadi tokoh Alkhairaat Kecamatan Nambo, sebut saja Saeria Balahanti warga RT 02 Kelurahan Nambo Bosaa yang ikut dalam rombongan mandi massal tersebut kepada awak media ini menuturkan bahwa mandi massal tersebut dilaksanakan setahun sekali dan dikatakan Mandi Safar karena dilaksanakan di bulan Safar.
“Sekarang bulan Safar makanya kami datang ramai-ramai disini untuk mandi dan ini kami lakukan sejak turun-temurun setiap bulan Safar”, imbuh Saeria Balahanti.

Usai mandi Massal warga kemudian menuju masjid yang kebetulan terletak hanya kisaran 5 meter dari bantaran sungai tempat dilakukannya mandi Safar. Usai Sholat Duha’, dilanjutkan dengan baca doa bersama dipimpin langsung imam Masjid Al-Munawarah Ustadz Makmur Lampeadja.

Kepada awak media ini imam Masjid menuturkan bahwa kedatangan warga tersebut untuk melaksanakan mandi massal pada setiap akhir Bulan Safar dalam hitungan tahun Hijriyah atau yang saat ini bertepatan hari Rabu 14 Oktober 2020.
“Mereka datang mandi Safar, dan ini sudah dilakukan warga sejak turun temurun, dilaksanakan pada setiap akhir Bulan Safar dalam hitungan tahun Hijriyah atau setiap hari Rabu yang saat ini bertepatan hari Rabu tanggal 14/10”, jelas Imam Makmur Lampeadja.

Saat ditanya tentang maksud dan tujuan mandi Safar tersebut, imam Makmur L. menuturkan bahwa mandi Safar umumnya dilaksanakan setiap hari Rabu di akhir Bulan Safar, maknanyapun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mandi pada umumnya yakni untuk kebersihan diri, yang membedakan hanya pada niat mandinya saja. Disamping itu, mandi Safar bisa menjadi sarana syiar agama, dapat mengedukasi ummat khususnya dibidang kebersihan diri, juga menjadi aset budaya daerah, tutur Makmur.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Nambo Syu’aim Asagaf saat dikonfirmasi terkait kegiatan mandi Safar tersebut melalui Via Watsappnya (14/10) menuturkan bahwa kegiatan mandi Safar tersebut tidak diatur dalam ketentuan hukum syar’i, menurut KUA mandi Safar ini mengarah ke kegiatan seremonial warga yang membudaya sejak turun temurun setiap tahun di Bulan Safar. (tambrin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top