Minggu , 9 Mei 2021

Hati-hati, doktrinisasi dalam Ponpes Abal-abal

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  

Sulteng – Manusia adalah mahluk sosial, dimana dalam aktifitasnya selalu membutuhkan orang lain, orang tidak dapat hidup sendiri dan harus berinteraksi dengan orang lain dalam mempertahankan kehidupanya.

Dalam Islampun demikian, Islam turun dengan orientasi universal dengan membawa manfaat bagi semua mahluk, dalam Islam disebut Rahmatan Lil Alamin. Bukan saja memberi rahmat kepada umat Islam itu sendiri namun juga kepada semua manusia bahkan mahluk di alam semesta ini.

Nabi Muhammad Rasulullah SAW sendiri mengharapkan umatnya untuk berilmu, sehingga Rasulullah memberikan suatu idiom “ Carilah Ilmu sampai ke negeri Cina “. Maksudnya adalah sebagai umat Islam harus memiliki ilmu pengetahuan, berjiwa saintis dan rasional.

Namun sayang seribu sayang, saat ini banyak tempat-tempat untuk pembelajaran Islam tidak dikelola dengan baik. Bahkan banyak yang menamakan Pondok Pesantren, namun secara formal maupun material jauh dari harapan. Ini yang sangat menghawatirkan.

Bahkan di Sulawesi Tengah sendiri masih ada yang menamakan Pondok Pesantren, namun dikelola oleh orang-orang yang mempunyai tujuan khusus. Bahkan dalam proses belajar mengajar materi yang diberikan hanya doktrinisasi dan materi logika ditiadakan.

Tentu saja pondok pesantren abal-abal ini akan menghasilkan santri-santri yang tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni, bahkan akan menciptakan manusia yang tidak menerima perbedaan dalam kehidupan sosial.

Pertanyaanya adalah, apakah semua pihak yang terkait dalam hal ini Kepolisian, dinas Pendidikan, Kanwil Agama, Kesbangpol atau Pemerintah Daerah telah memetakan adanya tempat-tempat doktrinisasi berlabel agama ?
Kepada masyarakat secara luas harus berhati-hati dalam menyikapi hal ini. Jangan sampai anak-anak yang diharapkan untuk bisa beragama dengan benar dengan ajaran yang begitu mulia, justru berbanding terbalik. Dan apabila doktrin telah tertanam maka yang terjadi adalah terciptanya generasi radikalisme fundamental. Padahal radikalisme jauh dari ajaran Islam.

Secara umum ponpes abal-abal mendoktrin anak-anak yang masih labil, karena rata-rata umur mereka antara 9 sampai dengan 14 tahun. Dan dalam usia tersebut anak-anak sangat mudah untuk di doktrin, karena mereka belum menggunakan logika. Dan dalam pembelajaran mereka justru mengabaikan kurikulum yang berlaku di negara kita. Seperti contoh, ada yang menamakan ponpes meniadakan materi berhitung/matematika, ilmu pengetahuan Alam baik fisika maupun biologi. Semua mata pelajaran yang bersifat eksakta dihilangkan. Ini merupakan indikator bahwa dalam proses belajar mengajar hanya di fokuskan dalam doktrinisasi. Inilah yang harus diwaspadai.(tio).

About REDAKSI

Check Also

Nelayan Warga Desa Bou Hilang di Laut

SHARE :    DONGGALA, sigipos.com- Saat memancing di pesisir pantai Desa Bou Kecamatan Sojol Utara, Kabupaten Donggala, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *