Rabu , 28 Juli 2021

Surga Dasar Laut Pulau Langala Morowali

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis : Johan B. Pratika

Wisata Bahari di negeri ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal potensi yang ada sungguh amat melimpah. Seperti di Pulau Langala, Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah.

MOROWALI, Sigipos- Pagi itu laut kehilangan birunya. Langit mendung berawan mengusir biru laut dan menggantinya dengan warna hitam nan kelam. Untung saja laut di wilayah Kecamatan Bohodopi, Kabupaten Morowali tidak sepenuhnya tampak buram, karena tiba-tiba muncul sang surya yang secara perlahan mengusir mendung dan mengobati dingin hawa pagi.

Abed, anggota Langkoe Diving Club Perikanan Universitas Haluleo, Kendari itu nampak terbakar semangatnya. “Bagus langit kembali cerah,” katanya.

Lelaki asal Bungku ini segera mempersiapkan perahunya yang tengah bersandar di tepi pantai. Berbagai peralatan selam, seperti tangki oksigen, kamera bawah laut serta makanan sampai pil anti mabuk laut sudah tersedia.

“Ayo sekarang saatnya kita penuhi undangan sang laut,” teriak Abed, sambil mengajak Sigipos.com beserta 3 anggota Tim Surveyor Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Morowali untuk segera menaiki perahunya.

Ia pun mulai angkat sauh. Perlahan-lahan perahu berkapasitas 5 penumpang ini bergerak dengan bantuan mesin 20 PK. Begitu perahu mulai menjauh dari garis pantai, mesin semakin dipacu dengan kecepatan penuh. Semakin lama, barisan rumah nelayan yang berjejer di pantai Bohodopi terlihat semakin samar-samar dan akhirnya menghilang, tergantikan oleh birunya laut Banda yang penuh misteri.

Perjalanan kali ini adalah rangkaian kegiatan penyusunan Profil Wisata Bahari di Pulau Langala, Desa Fatufia, Kecamatan Bohodopi Kabupaten Morowali yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Para Surveyor tersebut akan meneliti ekosistem terumbu karang yang merupakan ekosistem dengan produktivitas hayati tinggi dan mempunyai peranan penting dari segi ekologis dan ekonomis.

Sebab, dari segi ekologis, ekosistem terumbu karang merupakan kawasan yang kompleks dengan produktivitas dan keaneka ragaman jenis biota laut, serta berfungsi sebagai tempat asuhan, pembesaran, perlindungan bagi larva dan juvenile ikan serta buffer zone bagi berbagai spesies migrasi.

Selain itu juga berpotensi untuk bahan obat-obatan, anti virus, anti kanker dan lain sebagainya. Terumbu karang juga memberikan kontribusi dalam melindungi pantai dari abrasi, banjir dan fenomena alam lain yang diakibatkan oeh air laut.

Sedangkan dari segi ekonomis, barisan terumbu karang yang masih perawan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan akan menjadi salah satu primadona pariwisata di Kabupaten Morowali.

Dalam perjalanan membelah lautan kali ini, beberapa perahu nelayan tradisional sesekali melintas di depan perahu kami. Dikejauhan nampak terbentang lautan bebas, terpadu dengan gugusan bukit hijau pulau Sulawesi yang sangat menawan. Terpaan angin laut Banda menyibak rambut dan menggerayangi sekujur tubuh, memberikan sensasi tersendiri. Alunan ombak laut yang bersahabat, mengiringi perjalanan dari Bohodopi menuju Pulau Langala. Sungguh suatu pengalaman yang tak mungkin terlupakan.

Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, muncullah di depan mata suatu pemandangan yang begitu menakjubkan, Pulau Langala yang tak berpenghuni. Dengan keindahan hamparan pantai pasir putihnya yang gemerlap, akibat tertimpa sinar matahari, menyambut kedatangan kami.

Sontak, kami pun semakin bersemangat. Segala penat akibat perjalanan lewat darat dari Palu menuju Bungku Tengah, ibukota Kabupaten Morowali, yang dilanjutkan ke Kecamatan Bohodopi, lalu menyeberang ke Pulau Langala, pupus sudah. “Hoi… kita sudah sampai…!” teriak salah satu anggota Tim.

Setelah sampai di pulau, kami pun dengan tak sabar berloncatan ke darat. Selanjutnya dengan cekatan Abed bersama rekan-rekannya mengecek segala peralatan untuk menyelam. Mulai dari sepatu katak sampai tabung oksigen, tak luput dari pemeriksaannya.

Tidak lama kemudian, kami sudah menikmati indahnya jajaran terumbu karang Pulau Langala yang berwarna-warni. Beberapa ikan karang dengan genitnya, asyik bermain-main mengelilingi kami. Udang karang, teripang dan bintang laut, semakin menyemarakkan pemandangan dasar laut Pulau Langala. Sungguh suatu pemandangan yang begitu indah. Sampai kami tak sadar, waktu telah berlalu begitu cepat. Maksud hati tak ingin cepat beranjak, meninggalkan surga bawah laut Pulau Langala. Tapi apa daya, persediaan oksigen terbatas.

Sebenarnya, wilayah Pesisir Pulau Langala dengan kondisi terumbu karangnya yang menyimpan potensi keindahan bawah laut, cukup potensial menjadi kawasan wisata bawah laut. Sedangkan wilayah daratan dengan hamparan pasir putih, cukup baik digunakan sebagai kawasan wisata pantai bagi wisatawan domestic maupun mancanegara. Pengembangan wisata bahari yang cukup menjanjikan adalah; wisata selam (scuba diving), Snorkeling (renang menggunakan alat dasar), Swiming (renang tanpa alat), Fishing (memancing) dan wisata pantai lainnya.

Secara umum, disepanjang pesisir pulau Langala memiliki kontur dasar perairan dengan kemiringan yang landai (15o – 60o) . Terumbu karang mulai ditemukan pada daerah rataan terumbu (reef flat) pada kedalaman 1 – 3 meter, hingga pada daerah lereng terumbu (reef slope) pada kedalaman 4 – 15 meter.

Kondisi karang yang beraneka ragam serta ikan-ikan karang yang memiliki aneka warna yang indah atau yang sering disebut ikan hias dari suku Pomacentridae, karang lunak (Soft Coral) yang beraneka ragam serta biota lain, seperti Sea Anemone, Sponge dan Kipas Laut (Sea Fan), akan menambah keindahan dan daya tarik tersendiri bagi para pecinta olahraga selam yang berkunjung ke Pulau Langala.

KONDISI UMUM
Pulau Langala secara administratif masuk dalam wilayah desa Fatufia Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. Secara geografis pulau ini memiliki batas-batas sebagai berikut :

 Sebelah Utara berhadapan dengan Laut Banda
 Sebelah Selatan berhadapan dengan Areal Pertambangan PT. Bintang Delapan
 Sebelah Timur berhadapan dengan Desa Padabaho.
 Sebelah Barat berhadapan dengan Desa Bahodopi.

Luas Wilayah Desa Bahodopi 119,79 Km2, dengan panjang garis pantai ±5 km dengan jumlah penduduk 503 jiwa, 127 KK terdiri dari 256 jiwa Laki-laki dan 247 Jiwa Perempuan. Umumnya mata pencaharian penduduk desa Bahodopi adalah Petani (106 orang) dan Nelayan (75 org), sisanya adalah Buruh (14 orang), Wiraswasta (13 orang), PNS (3 orang) dan Peternak (3 orang). Mayoritas Masyarakat desa Bahodopi adalah suku Bungku, sebagian lagi suku Bugis, Bajo dan Buton.

Nelayan Desa Bahodopi menggunakan alat tangkap yang bermacam-macam, misalnya : Pancing, Pukat Pantai, Pursein, Bubu dan Sero. Sebagian masyarakat melakukan budidaya laut, seperti budidaya rumput laut dan pembesaran ikan dalam karamba tancap disekitar pesisir desa.

Pulau Langala adalah pulau yang tidak berpenghuni, namun disekitarnya sering dijadikan sebagai wilayah tangkapan masyarakat desa Bahodopi dan menjadi tempat persinggahan pada saat mereka melaut disekitar pulau. Terkadang pulau Langala juga menjadi tujuan wisata bahari oleh masyarakat lokal.

Secara umum pesisir pantai pulau Langala memiliki tipe terumbu karang pantai (fringing reef). Kedalaman karang ditemukan mulai 1 meter pada rataan terumbu (reef flat) hingga mencapai 25 meter pada lereng terumbu (reef slope). Kemiringan dasar perairan dimana terdapat terumbu karang lebih bervariasi, yaitu mulai dari kemiringan 15o (landai) hingga mencapai kemiringan 45 derajat.

Dari hasil pengamatan, di pulau Langala dijumpai aneka ragam jenis ikan karang, yaitu 24 famili (suku), 54 Genus dan 92 Jenis (spesies). Dari 24 suku ikan karang yang ditemukan, menunjukkan bahwa sebaran ikan karang di pulau Langala didominasi oleh suku Pomacentridae (23 jenis), , Labridae (11 jenis), Chaetodontidae (8 jenis), Achanthuridae dan Serranidae (masing-masing 6 jenis), Pomachantidae (5 jenis), Apogondidae dan Nemipteridae (4 jenis) serta suku lainnya antara 3 – 10 jenis.

Selain itu, di gugusan karang Pulau Langala dapat ditemukan juga biota laut lainnya, seperti karang jamur Fungia spp. (Coral Mushroom, CMR), Bulu Babi Hitam (Diadema Setosum), Bintang Laut (Sea Star), Kima Besar (Tridacna sp.) Udang Karang (Lobster) dan Teripang (Holothuridae).***

About REDAKSI

Check Also

Ipda Kusairi, “Samson” Satgas Madago Raya

SHARE :    POSO, Sigipos.com- Sosok Ipda Kusairi dari Batalyon A Pelopor, Satbrimob Polda Sulteng yang tergabung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *